Senin, 03 Oktober 2011

Hubungan Adam dan Iblis dengan "Jannah" (Kebun)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL

"ADAM, MALAIKAT, IBLIS"

DENGAN

SURAH AL-IKHLASH, AL-FALAQ, DAN AL-NAAS

Bagian X


Tentang

Hubungan Adam dan Iblis dengan "Jannah" (Kebun)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۶

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri engkau dalam jannah (kebun) ini, dan makanlah darinya sesuka hati di mana pun kamu berdua kehendaki, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, maka [jika tidak mentaati] kamu berdua akan menjadi orang-orang zalim. (Al-Baqarah [2]:36).

Kata jannah (kebun/taman) yang tercantum pada firman Allah Swt. di awal Bab ini tidak memberi isyarat kepada surga yang akan dimasuki para ahli surga di alam akhirat setelah mereka mengalami kematian, melainkan hanya kepada tempat yang keadaannya seperti kebun, yaitu tempat yang sangat subur untuk pertama kali Adam a.s. disuruh tinggal.

Kata itu tidak dapat ditujukan kepada surga: pertama, karena di bumi inilah Adam a.s. disuruh tinggal (QS.2:37); kedua, surga adalah tempat yang bila seseorang sudah memasukinya tidak pernah dikeluarkan lagi (QS.15:49), sedangkan Adam a.s. diperintahkan meninggalkan jannah (kebun) itu, seperti dituturkan dalam ayat ini. Hal itu menunjukkan bahwa jannah atau kebun tempat untuk pertama kalinya Adam a.s. tinggal adalah tempat di bumi ini juga, yang telah diberi nama jannah (kebun) karena kesuburan tanahnya dan penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Penyelidikan akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa tempat itu Taman Eden yang terletak dekat Babil di Irak atau Assyria (Encyclopaedia Britanica pada “Ur”).

Hubungan Kata Jannah dengan Kata Jinn

Kata itu tidak dapat ditujukan kepada surga: pertama, karena di bumi inilah Adam a.s. disuruh tinggal (QS.2:37); kedua, surga adalah tempat yang bila seseorang sudah memasukinya tidak pernah dikeluarkan lagi (QS.15:49), sedangkan Adam a.s. diperintahkan meninggalkan jannah (kebun) itu, seperti dituturkan dalam ayat ini. Hal itu menunjukkan bahwa jannah atau kebun tempat untuk pertama kalinya Adam a.s. tinggal adalah tempat di bumi ini juga, yang telah diberi nama jannah (kebun) karena kesuburan tanahnya dan penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Penyelidikan akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa tempat itu Taman Eden yang terletak dekat Babil di Irak atau Assyria (Encyclopaedia Britanica pada “Ur”).

Hubungan Kata Jannah dengan Kata Jinn

Kata jannah memiliki hubungan dengan kata jinn atau pun dengan kata junnatun (perisai/tameng), jinnatun (kerasukan jin/gila), kata janin, yang erat hubungannya dengan ketersembunyian. Semua kata tersebut memiliki akar kata yang sama yakni janna, yang artinya antara lain: menjadi gelap, menutupi, menyembunyikan, tutup, tabir, kain kafan, yang mengisyaratkan sesuatu yang tersembunyi di bagian dalam, termasuk hati dan ruh (jiwa).

Firman Allah Swt. berikut ini lebih memperjelas lagi penggunaan kata jannah mengenai tempat tinggal Adam a.s. dan istrinya yakni sebuah wilayah yang sangat subur dan rimbun dengan berbagai pepohonan, karena orang yang berada di tempat yang seperti itu maka ia bukan saja akan terlindung dari tiupan angin dan sengatan panas cahaya matahari, bahkan akan terhindar dari kelaparan dan kehausan, sebab tempat subur seperti itu pasti pohon-pohonnya akan penuh dengan berbagai macam buah-buahan dan mata-mata air yang mengalir, firman-Nya:

وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۶

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri engkau dalam jannah (kebun) ini, dan makanlah darinya sesuka hati di mana pun kamu berdua kehendaki, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, maka [jika tidak mentaati] kamu berdua akan menjadi orang-orang zalim. (Al-Baqarah [2]:36).

Kata jannah (kebun/taman) yang tercantum pada firman Allah Swt. di awal Bab ini tidak memberi isyarat kepada surga yang akan dimasuki para ahli surga di alam akhirat setelah mereka mengalami kematian, melainkan hanya kepada tempat yang keadaannya seperti kebun, yaitu tempat yang sangat subur untuk pertama kali Adam a.s. disuruh tinggal.

Kata itu tidak dapat ditujukan kepada surga: pertama, karena di bumi inilah Adam a.s. disuruh tinggal (QS.2:37); kedua, surga adalah tempat yang bila seseorang sudah memasukinya tidak pernah dikeluarkan lagi (QS.15:49), sedangkan Adam a.s. diperintahkan meninggalkan jannah (kebun) itu, seperti dituturkan dalam ayat ini. Hal itu menunjukkan bahwa jannah atau kebun tempat untuk pertama kalinya Adam a.s. tinggal adalah tempat di bumi ini juga, yang telah diberi nama jannah (kebun) karena kesuburan tanahnya dan penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Penyelidikan akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa tempat itu Taman Eden yang terletak dekat Babil di Irak atau Assyria (Encyclopaedia Britanica pada “Ur”).

Hubungan Kata Jannah dengan Kata Jinn

Kata jannah memiliki hubungan dengan kata jinn atau pun dengan kata junnatun (perisai/tameng), jinnatun (kerasukan jin/gila), kata janin, yang erat hubungannya dengan ketersembunyian dan perlindungan. Semua kata tersebut memiliki akar kata yang sama yakni janna, yang artinya antara lain: menjadi gelap, menutupi, menyembunyikan, tutup, tabir, kain kafan, yang mengisyaratkan sesuatu yang tersembunyi di bagian dalam, termasuk hati dan ruh (jiwa).

Firman Allah Swt. berikut ini lebih memperjelas lagi penggunaan kata jannah mengenai tempat tinggal Adam a.s. dan istrinya yakni sebuah wilayah yang sangat subur dan rimbun dengan berbagai pepohonan, karena orang yang berada di tempat yang seperti itu maka ia bukan saja akan terlindung dari tiupan angin dan sengatan panas cahaya matahari, bahkan akan terhindar dari kelaparan dan kehausan, sebab tempat subur seperti itu pasti pohon-pohonnya akan penuh dengan berbagai macam buah-buahan dan mata-mata air yang mengalir, firman-Nya:

وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی ﴿۱۱۷ فَقُلۡنَا یٰۤـاٰدَمُ اِنَّ ہٰذَا عَدُوٌّ لَّکَ وَ لِزَوۡجِکَ فَلَا یُخۡرِجَنَّکُمَا مِنَ الۡجَنَّۃِ فَتَشۡقٰی ﴿۱۱۸ اِنَّ لَکَ اَلَّا تَجُوۡعَ فِیۡہَا وَ لَا تَعۡرٰی ﴿۱۱۹﴾ۙ وَ اَنَّکَ لَا تَظۡمَؤُا فِیۡہَا وَ لَا تَضۡحٰی ﴿۱۲۰

Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah yakni tunduk patuhlah kamu kepada Adam," maka mereka sujud kecuali iblis, ia menolak. Lalu Kami berfirman: "Hai Adam, sesungguhnya orang ini adalah musuh bagi engkau dan bagi istri engkau, maka ia jangan sampai mengeluarkan kamu berdua dari jannah (kebun) lalu kamu menderita kesulitan. Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di dalam­nya dan tidak pula engkau akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan kehausan di dalamnya dan tidak pula akan disengat panas mata-hari (Thaa Haa [20]:117-120).

Nabi Adam a.s. diperingatkan bahwa jika beliau menyerah kepada bujukan syaitan dan menerima nasihatnya maka beliau akan menjadi mahrum (luput) dari jannah, yaitu kehidupan berbahagia dan ketenteraman ruhani yang sebelumnya telah beliau nikmati.

Isyarat dalam ayat ini dan dalam ayat sebelumnya -- “Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di dalam­nya dan tidak pula engkau akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan kehausan di dalamnya dan tidak pula akan disengat panas matahari -- nampaknya ditujukan kepada kemudahan dan kesenangan yang tidak terpisahkan dari kehidupan beradab.

Dua ayat ini mengisyaratkan kepada kenyataan bahwa penyediaan pangan, sandang, dan perumahan bagi rakyat — sarana-sarana keperluan hidup yang pokok — merupakan tugas utama bagi suatu pemerintah beradab, dan bahwa suatu masyarakat baru dapat dikatakan masyarakat beradab, bila semua warga masyarakat itu dicukupi keperluan-keperluan tersebut di atas. Umat manusia akan terus menderita dari pergolakan-pergolakan sosial dan warna akhlak masyarakat umat manusia tidak akan mengalami perbaikan hakiki, selama kepincangan yang parah di bidang ekonomi — yaitu sebagian lapisan masyarakat berkecimpung dalam kekayaan, sedang sebagian lainnya mati kelaparan — tidak dihilangkan.

Nabi Adam a.s. diberitahukan di sini bahwa beliau akan tinggal di sebuah tempat di mana kesenangan dan keperluan hidup akan tersedia dengan secukupnya bagi semua penduduknya. Keadaan ini telah dijelaskan di tempat lain dalam Al-Quran dengan kata-kata “dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua suka” (QS.2:36).

Ayat yang sedang dibahas ini menunjukkan pula, bahwa semenjak Nabi Adam a.s. mulailah suatu tata-tertib dalam kemasyarakatan yang baru, dan bahwa beliau meletakkan dasar pemerintahan yang meratakan jalan bagi masa kemajuan manusia dalam bidang kemasyarakatan.

"Pohon Kekekalan Hidup" & Hubungan Surah Al-Naas dengan Bujukan Syaitan

Setelah para malaikat mengakui keunggulan Adam dalam hal memberitahukan nama-nama yang diajarkan Allah Swt. kepadanya serta melaksanakan perintah Allah Swt. ketika diperintahkan untuk “sujud’ yakni patuh taat sepenuhnya kepada Adam, selanjutnya Allah Swt. berfirman sebagaimana yang tercantum pada bagian awal Bab ini:

وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۶

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri engkau dalam jannah (kebun) ini, dan makanlah darinya sesuka hati di mana pun kamu berdua kehendaki, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, maka [jika tidak mentaati] kamu berdua akan menjadi orang-orang zalim. (Al-Baqarah [2]:36).

Di dunia ini tidak terdapat pohon yang disebut pohon khuld (kekekal­an). "Pohon" seperti yang disebut di sini dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran adalah keluarga atau suku tertentu, dan Nabi Adam a.s. dinasihati agar menjauhkan diri darinya karena anggota-anggota keluarga atau warga suku itu adalah musuh beliau. Allah Swt. telah menyebut orang-orang Yahudi yang senantiasa berlaku durhaka kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka serta menyebabkan penderitaan bagi umat manusia -- -- terutama umat Islam -- dengan sebutan "pohon terkutuk dalam Al-Quran" (QS.17:61), karena mereka bukan saja telah dikutuk oleh Allah Swt. (QS.5:14, 61, 65, 79), tetapi juga oleh para nabi Bani Israil sendiri, khususnya Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. (QS.5:79-80).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa wujud yang digambarkan menolak "sujud" kepada Adam a.s. adalah Iblis, sedangkan wujud yang menipu Adam a.s. dan istrinya dengan perantaraan "pohon kekekalan hidup" adalah syaitan (setan), firman-Nya:

فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿۲۱ وَ قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ۲۲

“Dan hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam jannah (kebun) ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua kehendaki, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, karena [nanti] kamu berdua akan termasuk orang-orang yang zalim.” Lalu syaitan membisikkan kewaswasan kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka dan ia berkata: “Tuhan kamu berdua sekali-kali tidak melarang kamu berdua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.” Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-‘Araaf [7]:20-22).

Pohon terlarang dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya. “Kalimah yang baik” diumpamakan sebagai “pohon baik” dalam Al-Quran (QS.14:25) dan “kalimah buruk” sebagai “pohon jahat” (QS.14:27).

Sementara pikiran-pikiran jahat pada akhirnya menjuruskan seseorang kepada kehancuran, maka pikiran-pikiran jahat itu pun menampakkan kepada dia kelemahan-kelemahan dirinya. Karena tempat ketika Adam a.s. disuruh tinggal digambarkan secara tamsil dalam Al-Quran sebagai jannah (kebun) karena itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan.

Makna “Aurat” Nabi Adam a.s. dan Istrinya

Adam a.s. digambarkan sebagai dilarang mendekati “pohon” tertentu yang bukan pohon dalam arti kata harfiah dan fisik, melainkan suatu keluarga atau suku tertentu. Kepada beliau diperintahkan supaya menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku tersebut adalah musuh beliau dan mereka itu niscaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan beliau. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿۲۳

Lalu ia (syaitan) membujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, maka tatkala keduanya merasai [buah] pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua dan mulailah keduanya menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu. Dan keduanya diseru oleh Tuhan mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua bahwa sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-‘Araaf [7]:23).

Kata sayyi’ah yang berarti tiap ucapan atau kebiasaan atau perbuatan jahat, kotor, tidak senonoh atau menjijikkan yang orang biasanya ingin menyembunyikan; aurat; ketelanjangan (Lexicon Lane), di sini dipergunakan dalam artian “aurat” atau “kelemahan”, sebab tiada aurat (kemaluan) manusia yang tersembunyi daripadanya. Beberapa kelemahan Adam a.s. sungguh tersembunyi dari beliau dan beliau baru menyadari hal itu ketika musuh-musuh membujuk beliau keluar dari kedudukan beliau yang aman.

Tiap-tiap orang mempunyai beberapa kelemahan tertentu yang bahkan tersembunyi dari dirinya sendiri, tetapi menjadi terbuka pada saat genting dan tegang, atau bila ia digoda dan dicoba. Jadi ketika Adam a.s. tergoda dan terpedaya oleh syaitan barulah beliau menjadi sadar akan beberapa kelemahan fitrinya. Al-Quran tidak mengatakan bahwa kelemahan Adam a.s. dan istri beliau diketahui orang lain, melainkan mereka sendiri menjadi sadar akan kelemahan-kelemahan mereka itu.

Dengan demikian sungguh keliru pendapat atau tafsir yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam a.s. dan istrinya memakan “buah pohon terlarang” maka tiba-tiba saja keduanya menjadi telanjang bulat, na’udzubillah min dzaalik, karena pakaiannya terlepas seluruhnya, karena yang dimaksud dengan aurat oleh Allah Swt. berkenaan dengan Nabi Adam a.s. dan istrinya maksudnya adalah kelemahan-kelemahan yang umumnya dimiliki oleh semua manusia, dan yang hanya terbuka atau diketahui oleh yang bersangkutan ketika menghadapi suatu situasi tertentu. Jadi kata aurat berkenaan dengan Nabi Adam a.s. dan istrinya sama sekali tidak berarti kemaluan, karena tidak pernah ada kemaluan yang tersembunyi atau tidak diketahui oleh pemiliknya.

(Bersambung)



Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar