Minggu, 20 November 2011

"Jannah-jannah" lainnya di Dunia: Kanaan "Negeri yang Dijanjikan" (9) & Upaya Pembunuhan Nabi Daud a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL

"ADAM, MALAIKAT, IBLIS"

DENGAN

SURAH AL-IKHLASH, AL-FALAQ, DAN AL-NAAS

Bagian XXXXV


Tentang

"Jannah-jannah" Lainnya di Dunia: Kanaan - "Negeri yang Dijanjikan" (9) & Upaya Pembunuhan Nabi Daud a.s.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


وَ ہَلۡ اَتٰىکَ نَبَؤُا الۡخَصۡمِ ۘ اِذۡ تَسَوَّرُوا الۡمِحۡرَابَ ﴿ۙ۲۲ اِذۡ دَخَلُوۡا عَلٰی دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنۡہُمۡ قَالُوۡا لَا تَخَفۡ ۚ خَصۡمٰنِ بَغٰی بَعۡضُنَا عَلٰی بَعۡضٍ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَنَا بِالۡحَقِّ وَ لَا تُشۡطِطۡ وَ اہۡدِنَاۤ اِلٰی سَوَآءِ الصِّرَاطِ ﴿۲۳ اِنَّ ہٰذَاۤ اَخِیۡ ۟ لَہٗ تِسۡعٌ وَّ تِسۡعُوۡنَ نَعۡجَۃً وَّ لِیَ نَعۡجَۃٌ وَّاحِدَۃٌ ۟ فَقَالَ اَکۡفِلۡنِیۡہَا وَ عَزَّنِیۡ فِی الۡخِطَابِ ﴿۲۴

Dan sudahkah datang kepada engkau kabar mengenai orang-orang yang pura-pura bertengkar ketika mereka itu memanjat dinding kamar pribadi-nya? Ketika mereka masuk mendatangi Daud, lalu ia terkejut karena mereka itu. Mereka berkata: “Janganlah takut, kami dua orang sedang bersengketa, kami berlaku zalim ter-hadap satu sama lain maka hakimilah di antara kami dengan keadilan, dan janganlah menzalimi kami dan tunjukilah kami ke jalan lurus. Sesungguhnya saudaraku ini memiliki sembilan puluh sembilan domba betina, dan aku memiliki seekor domba betina, tetapi ia berkata: ‘Serahkanlah itu kepadaku,’ dan ia telah mengungguli diriku dalam pembicaraan.” (Shaad [38]:22-24).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna perumpamaan-perumpamaan kaum-kaum kafir yang bukan Bani Israil – dalam hal ini adalah kaum Midian serta kaum-kaum sekutunya, yang disebut Jalut dan balatenteranya (QS.2:247-253) – dan juga disebut jin, syaitan, gunung, burung, dan kambing (QS.34:11-15; QS.38:18-27; QS.21:79-83).

Pengembangan Industri Militer Nabi Daud a.s.

Telah dikemukakan juga dua macam kebijaksanaan politik berbeda yang dilakukan Nabi Daud a.s. dengan putranya, Nabi Sulaiman a.s., yakni Nabi Daud a.s. dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi di masa pemerintahan beliau telah menghadapi kaum-kaum kafir yang merongrong kekuasaannya dengan cara-cara tegas (keras) yakni melakukan langkah-langkah secara militer, untuk tujuan itulah di masa Nabi Daud a.s. telah dikembangkan industri militer (perlengkapan perang), di antaranya pembuatan baju besi, firman-Nya:

وَ عَلَّمۡنٰہُ صَنۡعَۃَ لَبُوۡسٍ لَّکُمۡ لِتُحۡصِنَکُمۡ مِّنۡۢ بَاۡسِکُمۡ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ شٰکِرُوۡنَ ﴿۸۱ وَ لِسُلَیۡمٰنَ الرِّیۡحَ عَاصِفَۃً تَجۡرِیۡ بِاَمۡرِہٖۤ اِلَی الۡاَرۡضِ الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ کُنَّا بِکُلِّ شَیۡءٍ عٰلِمِیۡنَ ﴿۸۲ وَ مِنَ الشَّیٰطِیۡنِ مَنۡ یَّغُوۡصُوۡنَ لَہٗ وَ یَعۡمَلُوۡنَ عَمَلًا دُوۡنَ ذٰلِکَ ۚ وَ کُنَّا لَہُمۡ حٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ۸۳

Dan Kami mengajarinya membuat baju besi bagi kepentingan kamu supaya dapat melindungi dari pertempuranmu, maka apakah kamu mau bersyukur? Dan Kami menundukkan untuk Sulaiman angin yang kencang, angin itu bertiup atas perintahnya ke arah daerah yang telah Kami berkati di dalamnya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan kalangan syaitan-syaitan ada yang menyelam untuk dia, dan mereka melakukan pekerjaan lain selain itu, dan Kami-lah yang menjaga mereka. (Al-Anbiya [21]:81-83).

Ungkapan lain yang dipergunakan Al-Quran mengenai pengembangan industri militer tersebut adalah “Aku lunakkan besi baginya”, firman-Nya:

وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضۡلًا ؕ یٰجِبَالُ اَوِّبِیۡ مَعَہٗ وَ الطَّیۡرَ ۚ وَ اَلَنَّا لَہُ الۡحَدِیۡدَ ﴿ۙ۱۱ اَنِ اعۡمَلۡ سٰبِغٰتٍ وَّ قَدِّرۡ فِی السَّرۡدِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿۱۲

Dan sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan karunia dari Kami kepada Daud dan berfirman: ”Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama dia.” Dan Kami menjadikan besi lunak baginya. Berfirman: “Buatlah baju besi yang cukup panjang serta ukurlah cincin-cincinnya secara tepat, dan berbuatlah amal saleh, sesungguhnya Aku melihat apa pun yang kamu ker-jakan.” (Al-Saba’ [34]:11-12).

Ungkapan “Dan Kami menjadikan besi lunak baginya,” menunjukkan, bahwa teknik pembuatan alat-alat perang dari besi sudah sangat dikembangkan oleh Nabi Daud a.s. dan beliau dengan mudah dapat memfaedahkannya untuk membuat baju-baju rantai, sebagaimana ditampakkan oleh ayat berikutnya.

Pemanfaatan SDA dan SDM oleh Nabi Sulaiman a.s.

Perluasan wilayah kekuasaan kerajaan Bani Israil yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. sangat luas, sehingga ketika Nabi Sulaiman a.s. mewarisi tahta kerajaan dari Nabi Daud a.s. maka wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. terbentang dari Siria Utara sepanjang pantai Laut Tengah sebelah timur sampai Laut Merah, sepanjang Laut Arab sampai Teluk Persia.

Pada hakikatnya di zaman Nabi Sulaiman a.s. kerajaan Bani Israil telah mencapai puncak kejayaan dalam kekayaan harta, kekuasaan, dan pengaruh, sebagaimana ditampakkan oleh kata riih, yang di antara lain artinya kekuasaan dan penaklukan-penaklukan (Lexicon Lane) seperti digunakan dalam QS.81-83 sebelumnya.

Ayat itu pun (QS.21:81-83) menunjukkan, bahwa Nabi Sulaiman a.s. memiliki suatu armada niaga yang besar (I. Raja-raja 9:26-28 & Jewish Encyclopaedia Jilid XI hlm. 437) dan bahwa perindustrian dan kerajinan telah berkembang pesat di bawah pemerintahan beliau dan bahwa beliau telah menaklukkan serta memanfaatkan tenaga suku-suku bangsa pegunungan yang liar lagi suka memberontak (II Tawarikh 2:18 & 4:1-2).

Kecuali itu selaku seorang raja yang kaya-raya, sangat berkuasa dan beradab, Nabi Sulaiman a.s. merupakan tokoh di antara raja-raja bangsa Bani Israil, yang mendirikan bangunan-bangunan. Beliau mempunyai selera yang istimewa mengenai seni bangunan yang telah berkembang pesat di masa kekuasaan beliau. Baitulmuqadas di Yerusalem memberi bukti yang nyata tentang selera halus beliau berkenaan dengan seni bangunan.

Upaya Membunuh Nabi Daud a.s.

Berikut adalah upaya pembunuhan yang dilakukan oleh musuh-musuh Nabi Daud a.s., yang membuktikan bahwa situasi yang dihadapi oleh Nabi Daud a.s. selain memerlukan ketegasan juga memerlukan kewaspadaan yang tinggi, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:

اِصۡبِرۡ عَلٰی مَا یَقُوۡلُوۡنَ وَ اذۡکُرۡ عَبۡدَنَا دَاوٗدَ ذَا الۡاَیۡدِ ۚ اِنَّہٗۤ اَوَّابٌ ﴿۱۸ اِنَّا سَخَّرۡنَا الۡجِبَالَ مَعَہٗ یُسَبِّحۡنَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِشۡرَاقِ ﴿ۙ۱۹ وَ الطَّیۡرَ مَحۡشُوۡرَۃً ؕ کُلٌّ لَّہٗۤ اَوَّابٌ ﴿۲۰ وَ شَدَدۡنَا مُلۡکَہٗ وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡحِکۡمَۃَ وَ فَصۡلَ الۡخِطَابِ ﴿۲۱

Bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan ingatlah akan hamba Kami Daud yang memiliki kekuatan besar, sesungguhnya ia selalu kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung kepadanya, mereka bersama dia menyanjungkan kesucian Tuhan pada waktu petang dan pagi hari Dan juga burung-burung yang berhimpun bersama-sama, masing-masing selalu kembali bertaubat kepada-Nya. Dan Kami meneguhkan kerajaannya dan Kami menganugerahkan kepadanya kebijaksanaan dan ketepatan memutuskan perkara. (Shaad [38]:18-21).

Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., dan Nabi Ayyub a.s. . mempunyai kekuasaan, pengaruh, dan kekayaan besar, dan itulah sebabnya mengapa beliau-beliau itu senantiasa disebut bersama-sama dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:85; dan QS.21:80-84).

وَ ہَلۡ اَتٰىکَ نَبَؤُا الۡخَصۡمِ ۘ اِذۡ تَسَوَّرُوا الۡمِحۡرَابَ ﴿ۙ۲۲ اِذۡ دَخَلُوۡا عَلٰی دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنۡہُمۡ قَالُوۡا لَا تَخَفۡ ۚ خَصۡمٰنِ بَغٰی بَعۡضُنَا عَلٰی بَعۡضٍ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَنَا بِالۡحَقِّ وَ لَا تُشۡطِطۡ وَ اہۡدِنَاۤ اِلٰی سَوَآءِ الصِّرَاطِ ﴿۲۳ اِنَّ ہٰذَاۤ اَخِیۡ ۟ لَہٗ تِسۡعٌ وَّ تِسۡعُوۡنَ نَعۡجَۃً وَّ لِیَ نَعۡجَۃٌ وَّاحِدَۃٌ ۟ فَقَالَ اَکۡفِلۡنِیۡہَا وَ عَزَّنِیۡ فِی الۡخِطَابِ ﴿۲۴

Dan sudahkah datang kepada engkau kabar mengenai orang-orang yang pura-pura bertengkar ketika mereka itu memanjat dinding kamar pribadi-nya? Ketika mereka masuk mendatangi Daud, lalu ia terkejut karena mereka itu. Mereka berkata: “Janganlah takut, kami dua orang sedang bersengketa, kami berlaku zalim terhadap satu sama lain maka hakimilah di antara kami dengan keadilan, dan janganlah menzalimi kami dan tunjukilah kami ke jalan lurus. Sesungguhnya saudaraku ini memiliki sembilan puluh sembilan domba betina, dan aku memiliki seekor domba betina, tetapi ia berkata: ‘Serahkanlah itu kepadaku,’ dan ia telah mengungguli diriku dalam pembicaraan.” (Shaad [38]:22-24).

Kedurhakaan Bani Israil

Nampak dari sejarah bahwa meskipun kekuasaan Bani Israil telah mencapai puncaknya selama Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. memegang kekuasaan, namun para pengacau giat menimbulkan huru-hara dan perpecahan; tuduhan-tuduhan palsu (fitnah-fitnah) kepada Nabi Dud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. engan gencar dilancarkan dan disebarkan bahkan beberapa orang jahat pikiran berusaha membunuh Nabi Daud a.s. . Kepada percobaan membunuh Nabi Daud a.s. serupa itulah yang diisyaratkan dalam ayat ini.

Dua orang musuh beliau memanjat dinding kamar pribadi beliau dengan niat menyergap beliau, tetapi ketika mereka melihat beliau berada dalam keadaan siap-siaga dan menyadari bahwa rencana mereka telah gagal, mereka berusaha menenangkan beliau dan berpura-pura hanya dua orang bersengketa dan telah datang meminta keputusan beliau dalam sengketa itu. Tetapi Nabi Daud a.s. mengerti benar akan niat jahat mereka, dan oleh karena itu wajarlah kalau beliau merasa takut terhadap mereka.

Ayat tersebut menunjuk kepada kisah dua orang yang bermaksud membunuh Nabi Daud a.s.; tatkala mereka melihat beliau cukup bersiap-siaga, agaknya mereka telah mendapat akal seketika itu juga, dalam upaya mengelabui dan membelokkan pikiran beliau dari persangkaan buruk yang mungkin timbul pada beliau tentang mereka dan meredakan kekhawatiran beliau. Namun Nabi Daud a.s. pun tetap melayani kepura-puraan mereka itu dengan tenang, firman-Nya:

قَالَ لَقَدۡ ظَلَمَکَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِکَ اِلٰی نِعَاجِہٖ ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡخُلَطَآءِ لَیَبۡغِیۡ بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ قَلِیۡلٌ مَّا ہُمۡ ؕ وَ ظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰہُ فَاسۡتَغۡفَرَ رَبَّہٗ وَ خَرَّ رَاکِعًا وَّ اَنَابَ ﴿ٛ۲۵ فَغَفَرۡنَا لَہٗ ذٰلِکَ ؕ وَ اِنَّ لَہٗ عِنۡدَنَا لَزُلۡفٰی وَ حُسۡنَ مَاٰبٍ ﴿۲۶ یٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلۡنٰکَ خَلِیۡفَۃً فِی الۡاَرۡضِ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَ النَّاسِ بِالۡحَقِّ وَ لَا تَتَّبِعِ الۡہَوٰی فَیُضِلَّکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ یَضِلُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَہُمۡ عَذَابٌ شَدِیۡدٌۢ بِمَا نَسُوۡا یَوۡمَ الۡحِسَابِ ﴿٪۲۷

Ia, Daud, berkata: “Sungguh ia benar-benar telah berlaku zalim terhadap engkau dengan meminta domba betina engkau untuk me-nambahkannya kepada domba-domba betinanya. Dan sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar berlaku zalim sebagian terhadap sebagian lain, kecuali orang-orang yang beriman dan ber-amal shalih tetapi mereka itu sedikit.” Dan Daud menyangka bahwa Kami telah menguji dia maka ia memohon ampun kepada Tuhan-nya, dan ia merebahkan diri menyatakan kepatuhan dan menghadapkan diri kepada-Nya. Maka Kami mengampuni baginya hal itu, dan sesungguhnya ia benar-benar memiliki kedudukan yang dekat di sisi Kami dan sebaik-baik tempat kembali. “Hai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau khalifah di bumi maka hakimilah di antara manusia dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” Sesungguhnya orang-orang yang tersesat dari jalan Allah bagi mereka ada azab yang sangat keras karena mereka melupakan Hari Perhitungan. (Shaad [38]:25-27).

Nabi Daud a.s. tidak terkelabui oleh kedua perusuh berkedok sebagai orang-orang biasa yang sedang bersengketa, beliau memahami benar sandiwara itu. Meskipun beliau tidak kehilangan akal dan memberikan keputusan seperti seorang hakim yang sehat dan tenang pikirannya, tetapi beliau menyadari bahwa kewibawaan beliau atas kaum beliau telah melemah dan bahwa, meskipun tindakan pencegahan telah diambil, beliau sama sekali tidak aman terhadap rencana dan komplotan-komplotan jahat musuh beliau.

Kerendahhatian Nabi Daud a.s.

Beliau merasa bahwa peristiwa itu merupakan peringatan dari Allah Swt. karena itu beliau menempuh jalan satu-satunya, seperti dilakukan orang-orang bertakwa dalam keadaan demikian. Beliau mendoa kepada Allah Swt. dan memohon perlindungan-Nya terhadap rencana-rencana dan komplotan-komplotan buruk musuh beliau. Sindiran yang terkandung di balik ceritera orang-orang yang bersengketa itu ialah, bahwa Nabi Daud a.s. itu seorang raja zalim yang memperluas kekuasaannya atas suku-suku bangsa tetangga yang kecil dan lemah.

Ungkapan ghafarnaa lahu dapat berarti “Kami memberikan kepadanya perlin-dungan Kami,” atau “Kami bereskan urusan-urusannya” (Lexicon Lane). Kata-kata “Ia mempunyai kedudukan akrab di sisi Kami dan sebaik-baik tempat kembali,” menunjukkan bahwa Nabi Daud a.s. tidak menderita kerusakan akhlak atau kelemahan ruhani, dan dengan jitu sekali melenyapkan dan membinasakan tuduhan keji seakan-akan Nabi Daud a.s. telah melakukan zina seperti dituduhkan Bible terhadap beliau (II Semuel 11:4-5).

Atas dasar berbagai upaya keji yang dilakukan oleh orang-orang kafir serta upaya pembunuhan dari kalangan Bani Israil sendiri, yang benar-benar tidak tahu bersyukur atas perjuangan berat Nabi Daud a.s. membangun kerajaan Bani Israil yang luas dan kuat maka Nabi Daud a.s. telah mengutuk mereka, demikian juga halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:

لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿۷۹ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۸۰ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿۸۱

Orang-orang yang kafir dari kalangan Bani Israil dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam karena mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah dari kemurkaran yang dikerjakan mereka. Benar-benar sangat buruk apa yang biasa mereka kerjakan. Engkau akan melihat kebanyakan dari antara mereka menjadi orang-orang kafir sebagai pelindung. Benar-benar sangat buruk apa yang telah dikirimkan oleh mereka lebih dulu bagi diri mereka sehingga Allah murka kepada mereka dan di dalam azab inilah mereka kekal (Al-Maidah [5]:79-81).

(Bersambung)

Rujukan:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar