Kamis, 08 September 2011

Definisi Tuhan Yang Hakiki


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL

"ADAM, MALAIKAT, IBLIS"

DENGAN

SURAH AL-IKHLASH, AL-FALAQ, DAN AL-NAAS


Bagian I


Tentang

DEEFINISI "TUHAN YANG HAKIKI"


Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿۲ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿۳ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿۴ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾

Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).


Surah ini termasuk salah satu di antara Surah-surah paling awal diturunkan, adalah pendapat Hasan, ‘Ikrimah, dan lebih-lebih pendapat Ibn Mas’ud, salah seorang di antara para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang tergolong awwalin. Tetapi Ibn ‘Abbas, yang sekalipun jauh lebih muda daripada Ibn Mas’ud, dan dianggap salah seorang sahabat paling cendekia, menganggap Surah ini diturunkan di Medinah.

Nabi Besar Muhammad saw. telah menyatakan mengenai nilai Surah Al-Ikhlash yaitu 1/3 Al-Quran, hal tersebut menunjukkan bahwa betapa pentingnya kedudukan Surah Al-Ikhlas dalam Al-Quran. Pernyataan beliau saw. tersebut mengandung makna yang sangat dalam, namun yang pasti bahwa kandungan Surah Al-Ikhlash bersisi sifat-sifat tanzihiyyah Allah Swt., yakni sifat-sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Swt., Tuhan yang hakiki.

Kata ikhlash berasal dari akar kata khalasha yang artinya adalah: murni, tidak tercampur, bersih, jernih, bersih, tulus, bebas dari, selamat dari, dan lain-lain. Jadi, kata ikhlash sangat erat kaitannya dengan Tauhid hakiki, yang untuk tujuan itulah Allah Swt. di setiap zaman mengutus nabi-nabi Allah (QS.7:35-37), ketika Tauhid Ilahi yang difahami oleh umat beragama telah tercemar dengan berbagai jenis syirik, firman-Nya:

لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿۲ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿۳ فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿۴ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿۵ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿۶

Orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik tidak akan berhenti dari kekafiran hingga engkau membawa kepada mereka bukti yang nyata, seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. Dan orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus. (Bayyinah [98]:2-6).


Tempat dan Waktu Pewahyukannya & Makna Ayat-ayatnya


Mengingat adanya pertentangan pendapat di antara dua sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat terhormat itu, beberapa ahli tafsir cenderung berpikir bahwa Surah ini telah diwahyukan dua kali, pertama-tama di Mekkah dan kemudian di Medinah. Dari antara para ahli ketimuran, Muir menempatkannya di antara Surah-surah Makkiyah paling awal, sedang Noldeke menempatkannya pada akhir masa pertama, kira-kira pada tahun keempat Nabawi. Mengingat kepentingan masalah pokok yang dikandungnya, Surah ini telah dikenal dengan berbagai nama, yang lebih penting di antaranya ialah: Al-Tafrid, Al-Tajrid, Al-Tauhid, Al-Ikhlash, Al-Ma'rifah, Al-Shamad, Al-Ahad, Al-Nuur, dan sebagainya.

Oleh sebab Surah ini membahas akidah pokok Islam – tauhid Ilahi – maka Surah ini mempunyai kehormatan disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw. . Surah terbesar di antara semua Surah Al-Quran (Ruhul-Ma’ani). Siti ‘Aisyah r.a. diriwayatkan pernah mengatakan bahwa sebelum tidur, Nabi Besar Muhammad saw. biasa membaca Surah ini bersama dua Surah yang terakhir paling sedikit tiga kali (Abu Dawud).

Surah ini dinamakan Al-Ikhlash sebab dengan membaca Surah ini dan merenungkan isinya, pasti akan menimbulkan dalam hati si pembaca suatu pertautan (hubungan) mendalam dengan Tuhan (Allah Swt.). Yang menambah amat pentingnya bobot Surah ini ialah kenyataan bahwa sementara Surah Al-Fatihah dianggap sebagai ikhtisar seluruh Al-Quran, Surah sekarang ini bersama-sama dengan dua Surah berikutnya mengulangi lagi isi yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah.

Kalau Surah Al-Fatihah membahas keempat sifat tasybihiyyah Allah Swt. yang utama -- yakni Rabbubiyah, Rahmaaniyah, Rahiimiyah, dan Maaliki yaumid- diin -- Surah ini membahas keempat sifat tanzihiyah Allah yang utama dan membawahi semua sifat lainnya. Sifat tasybihiyyah adalah sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertetu dapat pula dimiliki dan diperagakan oleh makhluk-Nya terutama manusia, sedangkan sifat tanzihiyyah adalah sifat-sifat yang hanya khusus dimiliki oleh Allah Swt..

Ada pun tujuan dari peribadahan yang diwajibkan Allah Swt. bagi manusia (QS.51:57-59) adalah supaya manusia berusaha memperagakan sifat-sifat tasybihiyyah Allah Swt. sebagaimana yang diperagakan oleh para rasul Allah yang diutus di setiap zaman (QS,7:35-37), terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), yang membawa syariat terakhir dan tersempurna, yakni agama Islam (Al-Quran - QS.5:4).

Kata qul (katakan) di sini mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.”

Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan) dan berarti “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173; QS.30:31-33)

Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.

Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti keesaan Tuhan dalam wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Waahid berarti kemandirian Tuhan dalam sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allaahu Waahidun akan berarti, bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allaahu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal, dalam arti bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti. Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Shamad berarti: seorang atau wujud yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya. Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).

Dalam ayat yang mendahuluinya -- HuwalLaahu ahad telah dinyatakan bahwa Tuhan -- yakni Allah Swt. -- itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat Allaahush- shamad mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Allah Swt., tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Allah-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas. Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan Dia memiliki "keperluan" untuk kepentingan-Nya, hal itu timbul dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain, tunduk kepada hukum kematian. Allah tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.

Ayat wa lam yakun- lahuu kufuwan ahad menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.

Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt.. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan keesaan Sang Pencipta, sebab jika tidak demikian maka tatanan alam semesta ini akan hancur berantakan serta penuh dengan ketidakteraturan dalam segala sesuatunya (QS.21:23).

Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan (Allah Swt.). Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.

Dengan kata lain, Surah Al-Ikhlash berisi definisi mengenai Al-Khaaliq - Tuhan Maha Pencipta seluruh alam serta Wujud yang senantiasa memeliharanya yakni Rabb-al-'aalamiin (QS.1:2), karena itu wujud apa pun yang dianggap sebagai "tuhan sembahan" tetapi tidak memenuhi definisi "Tuhan" yang hakiki -- sebagaimana dikemukakan dalam Surah Al-Ikhlash -- maka ia bukanlah "Tuhan Pencipta" (Al-Khaaliq) yang hakiki melainkan "wujud yang diciptakan" (makhluq). Segala sesuatu yang dianggap sebagai "tuhan" namun keadaannya masih dalam kemampuan manusia untuk membayangkannya serta memvisualisasikannya -- baik berupa patung, gambar serta imajinasi dalam pikiran serta khalayan -- maka semua itu bukanlah Al-Khaaliq (Tuhan Pencipta) melainkan makhluq (yang diciptakan), firman-Nya:

وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾

"Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlash [112]:5).

Firman-Nya lagi:

لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ

"Tidak ada yang semisal-Nya" (Al-Syura [42]:12).

Firman-Nya:

فَلَا تَضۡرِبُوۡا لِلّٰہِ الۡاَمۡثَالَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۷۵

"Maka janganlah mengemukakan bagi Allah misal-misal (persamaan-persamaan), sesungguhnya Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui" (Al-Nahl [16]:75).

Sifat-sifat Tasbihiyyah Allah Swt.

Nabi Besar Muhammad saw. di dalam sebuah hadits qudsi bersabda bahwa Allah Swt. berfirman: "Aku adalah khazanah yang tersembunyi dan Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam", dalam versi lain dikatakan "maka Aku menciptakan manusia".

Dalam rangka agar manusia dapat "mengenal" Allah Swt. itulah maka Dia selain memberitahukan mengenai sifat-sifat tanzihiyah-Nya Allah Swt. pun di dalam Al-Quran mengemukakan pula sifat-sifat tasybihiyah-Nya, yakni sifat-sifat yang sampai kadar (batas) tertentu dapat pula dimiliki oleh makhluk-Nya, terutama oleh manusia karena manusia merupakan makhluk-Nya (ciptaan-Nya) yang paling sempurna (QS.82:7-9; QS.87:2-4;QS.95:5)

Sifat-sifat tasybihiyah Allah Swt. yang utama di dalam Al-Quran dikemukakan pada Surah pertama Al-Quran, yakni surah Al-Fatihah, yakni Rabbubiyyah, Rahmaaniyyah, Rahiimiyyah, dan Maaliki yaumid-diin, firman-Nya:

اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ ۙ﴿۲ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۳ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿۴

"Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam, Maha Pemurang, Maha Penyayang, Pemilik Hari pembalasan" (Al-Fatihah [1]:2-4).

Makna-makna Ayat Al-Fatihah

Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab lafaz Allah tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan lafaz Allah tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.

Lafaz Allah adalah ism zat (nama zat), bukan ism musytak, yakni tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan maka lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat lafaz Allah adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala sifat sempurna, dan huruf al tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).

Al-Rahmaan (Maha Pemurah) dan Al-Rahiim (Maha Penyayang), keduanya berasal dari akar yang sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni kehalusan dan ihsan yakni kebaikan, kebajikan” (Mufradat). Al-Rahmaan dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Al-Rahiim dalam ukuran fa’il. Menurut kaidah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf).

Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Muhith). Jadi, di mana kata Al-Rahmaan menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Al-Rahiim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas tetapi ditampakkan berulang-ulang.”

Mengingat arti-arti di atas, Al-Rahmaan adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang secara cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal, sedangkan Al-Rahiim adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal manusia, tetapi menampakkannya dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.

Kata Al-Rahmaan hanya dipakai untuk Allah Swt. sedangkan Al-Rahiim dipakai pula untuk manusia. Al-Rahmaan tidak hanya meliputi orang-orang beriman dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Al-Rahiim terutama tertuju kepada orang-orang beriman saja. Menurut sabda Nabi Besar Muhammad saw. sifat Al-Rahmaan umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Al-Rahiim umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang (Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, sedangkan alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa maka sifat Allāh Al-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan sifat Allah Al-Rahiim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang.

Segala benda (sarana) yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan, sedangkan karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas usaha atau amal kita. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Rahmaan itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedangkan Al-Rahiim itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal kita sebagai ganjaran-nya.

Makna “Alhamdulillaahi Rabbil- ‘aalamiin

Dalam Bahasa Arab, al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang juga suatu segi keluasan, karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran.

Dalam bahasa Arab dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur, tetapi kalau madah mungkin palsu, sedangkan hamd senantiasa benar. Lagi pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya, tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Mufradat).

Hamd mengandung pula arti: pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terhadap yang dituju oleh pujian itu, dan kerendahan, kehinaan, dan kepatuhan orang yang memberi pujian (Lexicon Lane). Jadi hamd adalah kata yang paling tepat dipakai di sini, untuk maksud mengutarakan kebaikan, dan puji-pujian yang sungguh wajar lagi layak serta sebagai sanjungan akan kemuliaan Allah Swt.. Menurut kebiasaan, kata hamd kemudian menjadi khusus ditujukan hanya kepada Allah Swt..

Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khaaliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Mufradat dan Lexicon Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., misalnya Nabi Yusuf a.s. sehubungan dengan kedatangan utusan raja Mesir telah menyebut raja Mesir dengan sebutan rabb dalam arti majikan utusan tersebut (QS.12:43).

Al-’aalamiin adalah jamak dari al-’alam, berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khaaliq - Maha Pencipta (Aqrab), kata tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan yakni alam binatang.

Kata al-’aalamiin tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

Ungkapan “Segala puji bagi Allah” lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia hanya dapat memuji Allah Swt. menurut pengetahuannya, sedangkan anak kalimat “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian yang tidak diketahuinya. Allah Swt. layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.

Tambahan pula kata al-hamd adalah masdar dan karena itu dapat diartikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, Al-hamdulillaahi berarti hanyalah Allah Swt. Yang berhak memberikan pujian sejati; dan diartikan secara tujuan kalimat, Alhamdulillaahi berarti bahwa segala pujian sejati dan ti-ap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt. semata-mata.

Hukum Evolusi & “Hari Pembalasan”

Ayat Alhamdulillaahi Rabbil- ‘aalamiin menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan terlaksana secara bertahap. Rabb adalah Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt.. Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi seperti biasanya diartikan, sebagaimana teori Charles Darwin bahwa manusia berasal dari kera. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum.

Selanjutnya ayat ini menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’aalamiin itu mengandung arti bahwa Allah Swt. mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tidak ada henti-hentinya.

Mālik berarti majikan atau orang yang memiliki hak atas sesuatu serta memiliki kekuasaan untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Aqrab).

Yaum berarti: waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Aqrab).

Diin berarti: pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya. (Lexicon Lane). Keempat sifat Allah Swt. yakni: “Tuhan seluruh alam”, “Pemurah”, “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran tentang keempat sifat tadi, laksana empat buah tiang di atasnya terletak ‘Arasy (Singgasana) Tuhan Yang Maha Kuasa, yakni Sifat-sifat tanzihiyyah Allah Swt..

Cara Allah Swt. Menampakkan Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya

Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas, memberikan penjelasan bagaimana Allah Swt. menampakkan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Sifat Rabb-ul-’aalamiin (Tuhan seluruh alam) mengandung arti, bahwa seiring dengan dijadikannya manusia Dia pun menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya, yang merupakan tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57-59).

Sifat Al-Rahmaan (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dan dengan perantaraan itu, Dia seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan ruhaninya. Dan jika manusia memakai sarana-sarana yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat maka sifat Al-Rahiim (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali sifat Maaliki yaum-id-dīn (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukkan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.

Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, tetapi proses pembalasan itu terus berlaku bahkan dalam kehidupan ini juga, dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain — para raja, para penguasa, dan sebagainya — oleh karena itu senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi pada Hari Pembalasan, kedaulatan Allāh Swt. itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil.

Pemakaian kata Maalik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa Allah Swt. tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Maalik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya.

Dengan mengambil diin dalam arti agama, maka kata-kata “Maaliki yaumid-diin” (Yang memiliki waktu agama) akan berarti bahwa bila suatu agama sejati diturunkan maka umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur maka nampaknya seolah-olah seluruh alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Khaaliq (Pencipta) dan Al-Maalik (Pemilik).

Jadi, betapa sempurnanya susunan Surah-surah dalam Al-Quran -- yakni dimulai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah Al-Naas -- yang benar-benar berbeda susunannya dengan saat ketika wahyu-wahyu Al-Quran secara berangsur-angsur (bertahap) mulai diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., yang bersifat kondisional, sedangkan susunan Surah-surah Al-Quran sebagaimana yang kemudian disebarluaskan pada masa Khalifah Utsman bin 'Affan r.a. bersifat abadi.

وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿۳۲﴾وَ لَا یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ۳۳

Dan orang-orang kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekali-gus?” Seperti itulah [Kami telah menurunkannya] supaya Kami meneguhkan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya (Al-Furqaan [25]:33).

Al-Quran diwahyukan sedikit-sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan tertentu yang sangat berguna: (a) waktu selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman untuk menyaksikan sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan, dengan demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dalam waktu selang itu. (b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.

Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari, dan menyesuaikan diri. Seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap, orang-orang kafir dapat mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya. Dengan demikian turunnya secara bertahap pada waktu-waktu yang berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan di dalam keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian demi sebagian agar supaya dapat dihafalkan di luar kepala dengan mudah. Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit memenuhi juga nubuatan dalam Bible seperti berikut: “Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? kanak-kanak yang baharu lepas susukah? kanak-kanak yang baharu diceraikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).

Sungguh sangat sempurna Al-Quran sebagai Kitab Suci terakhir, yang merupakan petunjuk yang paling sempurna bagi seluruh manusia (QS.2:3, 186), karena di awalnya dimulai dengan Surah Al-Fatihah yang merupakan ikhtisar ringkas seluruh isi Al-Quran, dan diakhiri dengan 3 Surah pendek -- Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan Al-Naas -- yang juga merupakan kesimpulan dari petunjuk Al-Quran yang sangat terinci mulai dari Surah Al-Baqarah (surah 2) sampai dengan Surah Al-Lahab (surah 111).

Di dalam Surah-surah pendek Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, tersebut berisi penjelasan mengenai Sifat-sifat utama Allah Swt. yakni sifat-sifat Tasybihiyyah mau pun sifat-sifat Tanzihiyyah, yang merupakan "definisi" bagi Tuhan yang hakiki, yakni Allah Swt.. Apa pun serta siapa pun yang dianggap sebagai "tuhan sembahan" tetapi tidak memenuhi kriteria "Tuhan" sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Ikhlash maka semua itu bukanlah Al-Khaaliq (Tuhan Pencipta) melainkan makhluq (yang diciptakan).

(Bersambung).

Rujukan:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar