Jumat, 02 Desember 2011

"Jannah-jannah" lainnya di Dunia: Ketakwaan & Terciptanya "Jannah" (1)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL

"ADAM, MALAIKAT, IBLIS"

DENGAN

SURAH AL-IKHLASH, AL-FALAQ, DAN AL-NAAS

Bagian LI


Tentang

Ketakwaan & Terciptanya "Jannah" (1)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۹۷

Dan Seandainya penduduk kota-kota beriman serta bertakwa niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi mereka telah mendustakan [rasul Allah], maka Kami menimpakan azab kepada mereka karena apa yang telah mereka usahakan (Al-A’raaf [7]:97).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai keunikan dan keunggulan Makkah sebagai salah satu “jannah” di dunia ini yang berbeda dengan “jannah-jannah” lainnya karena walau pun tidak didukung dengan SDA dan SDM yang nyata tetapi kota Makkah – yang di dalamnya terdapat Ka’bah (BaitulLah) – benar-benar telah memberikan jaminan keamanan dan kesentausaan bagi para penghuninya, sekali pun mereka itu orang-orang kafir bahkan orang-orang musyrik, firman-Nya:

وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿۱۲۶

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah tempat ini kota yang aman dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” Dia berfirman: Dan orang yang kafir pun maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya kemudian akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:126).

Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai jaminan keselamatan dan kesentausaan hidup yang telah ditetapkan-Nya bagi penduduk Makkah:

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿۱ لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿۲ اٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿۳ فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿۴ الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿۵

Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati orang-orang Quraisy, untuk melekatkan kecintaan mereka pada perjalanan di musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini, Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy [106]:1-5).


Hubungan Ketakwaan dengan “Jannah


Dari kenyataan mengenai keluarbiasaan kota Makkah sebagai “jannah” yang paling unik dan luar biasa tersebut dapat diketahui, bahwa Allah Swt. bukan saja menganugerahkan perlakuan-Nya yang khusus tersebut hanya kepada kota Makkah, tetapi juga kepada orang-orang yang bertakwa, baik secara perorangan mau pun secara kaum yang tinggal di suatu tempat atau kota. Berikut firman-Nya mengenai hal tersebut:

وَ مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّہٗ مَخۡرَجًا ۙ﴿۳ وَّ یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا ﴿۴

.......Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar, dan Dia akan memberi rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka Dia memadai baginya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan kadar (ketentuan) bagi segala sesuatu. (Al-Thalaaq [65]:3-4).

Firman-Nya lagi:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۳۰

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan bagimu furqaan (pembeda), dan Dia akan menghapuskan darimu keburukan-keburukanmu, Dia akan mengampunimu, dan Allah Memiliki karunia yang sangat besar. (Al-Furqaan [8]:30).

Furqaan berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon Lane).

Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۹

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Tuhan-mu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah kanannya, mereka akan berkata: “Hai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Tahrim [66]:9).

Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur (pasif). Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga sebab bila orang-orang beriman akan mencapai kesempurnaan yang menjadi ciri tingkat surga tertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.

Selanjutnya tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt.supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”

Mukjizat dan Karamah

Itulah beberapa ayat Al-Quran mengenai hubungan ketakwaan dengan “jannah” di dunia ini juga. Contoh yang paling nyata adalah mukjizat dan karamah yang dikaruniakan Allah Swt. kepada para nabi Allah dan para wali Allah, terutama sekali mukjizat-mukjizat yang dikaruniakan kepada Nabi Besar Muhammad saw., orang-orang suci itu pun atas izin Allah Swt. mampu melakukan “Kun, fayakun” (“Jadilah”, maka terjadilah – QS.2:118; QS.3:48; QS.36:83; QS.40:69) milik Allah Swt., sehingga walau pun secara logika serta dari segi duniawi tidak ada yang dapat diandalkan untuk keluar dari masalah yang dihadapi oleh para rasul Allah dan para wali Allah, tetapi berkat mukjizat dan karamah yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka maka mereka dapat mengatasi amasalah yang dihadapinya.

Berikut ini beberapa mukjizat yang dikaruniakan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:

وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۰

Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar tandingan, dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).

Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru (agama Islam) ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Makkah telah hijrah ke Madinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna meng-habisi Islam.

Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw. lalu membunuh beliau saw.. Tanpa setahu orang beliau saw. meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung di Gua Tsur bersama-sama Abubakar Shiddiq r.a. sahabat beliau yang setia, dan akhirnya sampai di Medinah dengan selamat.

Kemudian ketika terjadi perang Badar yang keadaan kedua belah pihak yang berhadapan sangat tidak seimbang dalam segala halnya, namun dalam kenyataannya umat Islam yang berjumlah 313 orang dapat mengalahkan 1000 orang pasukan kafir Quraisy secara telak serta dapat membunuh 8 dari 9 orang pemimpin mereka, termasuk Abu Jahal, firman-Nya:

فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۱۸

Maka bukan kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfaal [8]:18).

Demikian pula halnya dengan Nabi Musa a.s. ketika kaumnya, Bani Israil, telah ketakutan, karena Fir’aun dan belatentaranya telah mengejar mereka sampai dengan tepi laut yang menghadang perjalanan mereka melarikan diri dari Mesir, namun Nabi Musa a.s. tetap tenang karena beliau merasa yakin bahwa Allah Swt. pasti akan menolong beliau dan Bani Israil dari sergapan Fir’aun dan pasukannya:

فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿۶۱ فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ۶۲ قَالَ کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ سَیَہۡدِیۡنِ ﴿۶۳ فَاَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ کَالطَّوۡدِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ۶۴ وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ۚ۶۵ وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ۶۶ ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ۶۷ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿۶۸ وَ اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ﴿٪۶۹

Maka lasykar-lasykar Fir’aun menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhan-ku beserta-ku, segera Dia akan menunjukkan jalan keselamatan. Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau.” Lalu setiap bagiannya nampak seperti gunung yang besar. Dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, dan Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya, lalu Kami menenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau beriman. Dan sesungguhnya Tuhan engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Al-Syu’araa [26]:61-69).

Para sahabat Nabi Musa a.s. nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92, walau pun ketika berada di Mesir mereka berulang kali menyaksikan berbagai mukjizat Nabi Musa a.s..

“Jannah” di Dunia

Pendek kata, ketakwaan kepada Allah Swt. benar-benar dapat menciptakan “jannah” -- yakni kehidupan surgawi -- di dalam kehidupan di dunia ini, sehingga orang-orang yang bertakwa -- terutama sekali para nabi Allah dan para wali Allah – selalu dapat keluar dari permasalahan berat yang dihadapinya,, sebagaimana firman Allah Swt. sebelum ini:

وَ مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّہٗ مَخۡرَجًا ۙ﴿۳ وَّ یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا ﴿۴

.......Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar, dan Dia akan memberi rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia menyangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka Dia memadai baginya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan kadar (ketentuan) bagi segala sesuatu. (Al-Thalaaq [65]:3-4).

Berikut pernyataan Allah Swt. mengenai hal tersebut kepada kepada golongan Ahli Kitab:

وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡکِتٰبِ اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَکَفَّرۡنَا عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاَدۡخَلۡنٰہُمۡ جَنّٰتِ النَّعِیۡمِ ﴿۶۶ وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اَقَامُوا التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪۶۷

Dan seandainya para Ahlul Kitab benar-benar beriman dan bertakwa, niscaya Kami menghapuskan dari mereka keburukan mereka dan niscaya Kami memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun kenikmatan. Dan seandainya mereka benar-benar menegakkan ajaran Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka (Al-Quran) dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari ba-wah kaki mereka. Di antara mereka ada umat yang mengambil jalan tengah, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan. (Al-Maaidah [5]:66-67)

Ungkapan kebun-kebun kenikmatan menunjukkan keadaan serba sempurnanya kegembiraan ruhani, begitu juga tempat-tinggal penuh kenikmatan. Sementara mene-rangkan kata-kata “kebun” dan “surga,” Al-Quran telah mempergunakan empat ungkapan yang berbeda: (1) “kebun-kebun kenikmatan” seperti dalam ayat ini; (2) “kebun-kebun yang kekal-abadi” (QS.32:20); (3) “kebun-kebun abadi” (QS.9:72); dan (4) “Surga firdaus” (QS.8:108). Ungkapan-ungkapan tersebut menampilkan segi-segi yang berla-inan, begitu juga berbagai derajat surga.

Makna dari kalimat “niscaya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka “ (1) Mereka niscaya akan menerima rahmat dari langit seperti wahyu Ilahi dan hubungan dengan Tuhan, juga kesejahteraan duniawi. (2) Mereka bukan saja akan mendapat siraman hujan pada waktunya yang tepat dan lebat dari langit, tetapi tanah pun akan memberikan hasilnya untuk mereka dengan berlimpah-limpah. (3) Tuhan niscaya akan menyediakan untuk mereka sarana-sarana bagi kemajuan ruhani maupun jasmani.

Allah Swt. berfirman lagi:

وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۹۷

Dan seandainya penduduk kota-kota beriman dan bertakwa niscaya Kami akan membukakan keberkatan dari langit dan dari bumi bagi mereka, akan tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada mereka disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-‘Araaf [7]:97).

(Bersambung)

Rujukan:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

"Jannah-jannah" lainnya di Dunia: Makkah - "Jannah yang Paling Unik" (2)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL

"ADAM, MALAIKAT, IBLIS"

DENGAN

SURAH AL-IKHLASH, AL-FALAQ, DAN AL-NAAS

Bagian LI


Tentang

"Jannah-jannah" Lainnya di Dunia: Makkah "Jannah" yang Paling Unik (2)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma




رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۳۰﴾٪

Ya Tuhan kami, bangkitkanlah seorang rasul dari antara mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:129-10).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenaidoa Nabi Ibrahim a.s. mengenai Nabi Isma'il a.s. dan keturunannya, yang mencapai puncak pengabulannya dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. di Makkah, sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini:

رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۳۰﴾٪

Ya Tuhan kami, bangkitkanlah seorang rasul dari antara mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:129-10).

Ayat ini merupakan ikhtisar dari masalah pokok seluruh Surah Al-Baqarah yang bukan hanya berisikan pemekarannya saja melainkan pula membahas berbagai pokok dalam urutan yang sama seperti disebut dalam ayat ini, yaitu mula-mula Tanda-tanda, kemudian Kitab, lalu hikmah syariat, dan yang terakhir ialah sarana-sarana untuk kemajuan nasional.

Menarik sekali kiranya untuk diperhatikan di sini bahwa Al-Quran membicarakan dua doa Nabi Ibrahim a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan Nabi Ishaq a.s. dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s.. Doa pertama tercantum dalam QS.2:125 dan yang kedua dalam ayat ini.

Dalam doanya mengenai keturunan Nabi Ishaq a.s..,Nabi Ibrahim a.s. memohon supaya imam-iman atau para mushlih (pembaharu) dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut tugas atau kedudukan istimewa mereka — mereka itu Mushlih-muslih rabbani (Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut untuk memperbaiki Bani Israil. Tetapi dalam doanya pada ayat ini beliau memohon kepada Allah Swt. agar membangkitkan di antara keturunannya seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi indah sekali tentang kedua cabang keturunan Nabi Ibrahim a.s..

Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan Bani Ishaq saja, melainkan juga untuk keturunan Bani Isma'il a.s.,. putra sulungnya. Keturunan Nabi Ishaq a.s. kehilangan karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka, maka Nabi yang dijanjikan dan diminta dalam ayat ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang lain yaitu anak-cucu Nabi Isma'il a.s..

Untuk menegaskan bahwa Nabi yang diharapkan dan dijanjikan itu harus seorang dari Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat tepat menuturkan pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma'il a.s. dan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s. untuk keturunan putra sulungnya.

Terhadap kesimpulan wajar ini para pengecam Kristen pada umumnya mengemukakan dua kecaman: (1) Bahwa Bible tidak menyebut janji Allah apa pun kepada Nabi Ibrahim a.s. mengenai Nabi Isma'il a.s. dan (2) bahwa andaikata diakui bahwa Allah Swt. sungguh-sungguh telah memberikan suatu janji demikian, maka tidak ada bukti terhadap kenyataan bahwa Rasul agama Islam adalah keturunan Nabi Isma'il a.s..

Jawaban Keberatan

Adapun tentang keberatan pertama, andaikata pun diperhatikan bahwa Bible tak mengandung nubuatan-nubuatan apa pun mengenai Nabi Isma'il a.s. maka hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan demikian tidak pernah ada. Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s. dan putra-putranya, mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan dengan anak cucu Isma'il a.s. tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji telah diberikan pula oleh Allah Swt. kepada Nabi Isma'il a.s. dan anak-anaknya? Tetapi Bible sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan hari depan putra-putra Nabi Isma'il a.s. eperti dikandungnya mengenai kesejahteraan putra-putra Nabi Ishaq a.s. (Kejadian 16:10-12; 17:6-10; 17:18-20).

Sebagai jawaban kepada keberatan kedua bahwa seandainya pun perjanjian itu dianggap meliputi keturunan Nabi Isma'il a.s. masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. termasuk Bani Isma'il. Butir-butir berikut ini dapat diperhatikan:

(1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad saw. berasal, senantiasa percaya dan menyatakan diri sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s. dan pengakuan itu diakui oleh semua bangsa Arab.

(2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s. itu tidak benar, maka keturunan Nabi Isma'il a.s. yang sungguh-sungguh tentu akan membantah pengakuan palsu demikian itu, tetapi setahu orang, keberatan demikian tidak pernah diajukan.

(3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan telah berjanji akan memberkati Nabi Isma'il a.s. melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12 pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu mana bangsa yang dijanjikan itu? Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab sungguh-sungguh merupakan satu-satunya yang mengaku berasal dari Nabi Isma'il a.s..

(4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Sarah. Jika beliau tidak dibawa ke Hijaz, di manakah sekarang keturunannya dapat ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?

(5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa Arab semuanya sepakat bahwa Faran itu adalah nama yang diberikan kepada bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).

(6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi Isma'il a.s. menghuni wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke Syur” (Kejadian 25:18), dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Biblical Cyclopaedia by J. Eadie, London 1862).

(7). Bible menyebut Ismail “seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian 16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir sama pula.

(8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan antara Siti Hajar dengan tanah Arab (Galatia 4:25).

(9). Kedar itu seorang putra Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa keturunannya menduduki wilayah selatan tanah Arab (Biblical Cyclopaedia London 1862).

(10). Prof. C.C. Torrey mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani .... Dua belas orang raja" (Kejadian 17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian 25:13-15, menggambarkan suku-suku Arab atau daerah-daerah di negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul Jandal), Teima. Bangsa besar itu ialah penduduk Arab” (Jewish Foundation of Islam, halaman 83). “Orang-orang Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan asli .... dan dari persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical Literature, New York, halaman 685).

(11). “Marilah kita senantiasa mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar karena terutama kaum (suku) Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an, edited by the Rev. Mingana, D.D. Intro. xiii).

Dengan demikian jelaslah bahwa penempatan Nabi Ismai’l a.s. di masa kecil dan ibunda beliau di lembah Bakkah yang kering gersang oleh Nabi Ibrahim a.s. dekat “Rumah Allah” benar-benar merupakan peristiwa yang sangat monumental, karena di tempat tersebut terpadu dua hal yang “abadi”, yakni Rumah Allah yang abadi (Ka’bah – QS.3:97-98) dan syariat yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4), yang diwahyukan Allah Swt. kepada Rasul Allah yang abadi pula, yakni Nabi Besar Muhammad saw (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), yang untuk itulah Nabi Ibrahim a.s. secara khusus telah berdoa di Makkah bersama Nabi Isma’il a.s., firman-Nya:

رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۳۰﴾٪

Ya Tuhan kami, bangkitkanlah seorang rasul dari antara mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:129-10).

Seruan Ibadah Haji ke “Rumah Kuno”

Berikut adalah doa-doa Nabi Ibrahim a.s. yang lainnya mengenai kota Makkah yang kering-gersang, firman-Nya:

وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہِیۡمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا الۡبَلَدَ اٰمِنًا وَّ اجۡنُبۡنِیۡ وَ بَنِیَّ اَنۡ نَّعۡبُدَ الۡاَصۡنَامَ ﴿ؕ۳۶ رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ لنَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۷ رَبَّنَاۤ اِنِّیۡۤ اَسۡکَنۡتُ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ بِوَادٍ غَیۡرِ ذِیۡ زَرۡعٍ عِنۡدَ بَیۡتِکَ الۡمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِیُـقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ فَاجۡعَلۡ اَفۡئِدَۃً مِّنَ النَّاسِ تَہۡوِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ وَارۡ زُقۡہُمۡ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَشۡکُرُوۡنَ ﴿۳۸ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِیۡ وَ مَا نُعۡلِنُ ؕ وَ مَا یَخۡفٰی عَلَی اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا فِی السَّمَآءِ ﴿۳۹ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ وَہَبَ لِیۡ عَلَی الۡکِبَرِ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ لَسَمِیۡعُ الدُّعَآءِ ﴿۴۰ رَبِّ اجۡعَلۡنِیۡ مُقِیۡمَ الصَّلٰوۃِ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ٭ۖ رَبَّنَا وَ تَقَبَّلۡ دُعَآءِ ﴿۴۱ رَبَّنَا اغۡفِرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیَّ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ یَوۡمَ یَقُوۡمُ الۡحِسَابُ ﴿٪۴۲

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah kota ini tempat yang aman, dan lindungilah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhan-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari antara manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia dariku, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus dekat rumah Engkau yang suci. Ya Tuhan kami, supaya mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, supaya mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit. Segala puji bagi Allah Yang telah menganugerahkan kepadaku Isma’il dan Ishaq walaupun usiaku telah lanjut, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mendengar doa. Ya Tuhan-ku, jadikanlah aku orang yang senantiasa mendirikan shalat, dan juga keturunanku. Ya Tuhan kami, dan kabulkanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan orang-orang yang beriman pada Hari penghisaban.” (Ibrahim [14]: 36-42).

Firman-Nya lagi:

وَ اِذۡ بَوَّاۡنَا لِاِبۡرٰہِیۡمَ مَکَانَ الۡبَیۡتِ اَنۡ لَّا تُشۡرِکۡ بِیۡ شَیۡئًا وَّ طَہِّرۡ بَیۡتِیَ لِلطَّآئِفِیۡنَ وَ الۡقَآئِمِیۡنَ وَ الرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ ﴿۲۷ وَ اَذِّنۡ فِی النَّاسِ بِالۡحَجِّ یَاۡتُوۡکَ رِجَالًا وَّ عَلٰی کُلِّ ضَامِرٍ یَّاۡتِیۡنَ مِنۡ کُلِّ فَجٍّ عَمِیۡقٍ ﴿ۙ۲۸ لِّیَشۡہَدُوۡا مَنَافِعَ لَہُمۡ وَ یَذۡکُرُوا اسۡمَ اللّٰہِ فِیۡۤ اَیَّامٍ مَّعۡلُوۡمٰتٍ عَلٰی مَا رَزَقَہُمۡ مِّنۡۢ بَہِیۡمَۃِ الۡاَنۡعَامِ ۚ فَکُلُوۡا مِنۡہَا وَ اَطۡعِمُوا الۡبَآئِسَ الۡفَقِیۡرَ ﴿۫۲۹ ثُمَّ لۡیَقۡضُوۡا تَفَثَہُمۡ وَ لۡیُوۡفُوۡا نُذُوۡرَہُمۡ وَ لۡیَطَّوَّفُوۡا بِالۡبَیۡتِ الۡعَتِیۡقِ ﴿۳۰ ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ حُرُمٰتِ اللّٰہِ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ؕ وَ اُحِلَّتۡ لَکُمُ الۡاَنۡعَامُ اِلَّا مَا یُتۡلٰی عَلَیۡکُمۡ فَاجۡتَنِبُوا الرِّجۡسَ مِنَ الۡاَوۡثَانِ وَ اجۡتَنِبُوۡا قَوۡلَ الزُّوۡرِ ﴿ۙ۳۱ حُنَفَآءَ لِلّٰہِ غَیۡرَ مُشۡرِکِیۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَکَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخۡطَفُہُ الطَّیۡرُ اَوۡ تَہۡوِیۡ بِہِ الرِّیۡحُ فِیۡ مَکَانٍ سَحِیۡقٍ ﴿۳۲ ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ شَعَآئِرَ اللّٰہِ فَاِنَّہَا مِنۡ تَقۡوَی الۡقُلُوۡبِ ﴿۳۳ لَکُمۡ فِیۡہَا مَنَافِعُ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ مَحِلُّہَاۤ اِلَی الۡبَیۡتِ الۡعَتِیۡقِ ﴿٪۳۴

Dan ingatlah ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat rumah Allah dan berfirman: “Janganlah mempersekutukan Aku dengan sesuatu, dan bersihkanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, yang berdiri tegak dan orang-orang yang rukuk serta sujud. Dan umumkanlah kepada manusia untuk ibadah haji, mereka akan datang kepada engkau berjalan kaki dan menunggang unta yang kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh-jauh. Supaya mereka dapat menyaksikan manfaat-manfaatnya bagi mereka, dan dapat mengingat nama Allah selama hari-hari yang ditetapkan atas apa yang telah Dia rezekikan kepada mereka dari binatang ternak berkaki empat. Maka makanlah darinya dan berilah makan orang-orang sengsara, dan fakir. Kemudian hendaklah mereka membersihkan kekotoran mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan berthawaf di sekeliling Rumah Kuno itu.” (Al-Hajj [22]:27-30)

Rumah Kuno

Albaitul’atiq berarti: Rumah yang bebas, sangat mulia, dan sangat tua (Lexicon Lane). Kata sifat “bebas” mengandung kabar gaib bahwa tidak ada kekuasaan musuh akan mampu menaklukkannya. Rumah itu akan tetap merdeka. Sifat “sangat mulia” mengandung arti bahwa Ka’bah senantiasa menduduki tempat yang mulia di dunia. Kenyataan bahwa Ka’bah rumah peribadatan yang sangat tua di dunia mendapat dukungan dalam satu ayat Al-Quran yang lain (QS.3:97).

Rumah itu telah ada lama sebelum Nabi Ibrahim a.s. membawa istri beliau, Siti Hajar, dan putra beliau, Nabi Isma’il a.s., untuk bermukim di lembah Makkah yang kering gersang, dan tidak subur. (QS.14:38). Menurut kepercayaan sementara orang, Nabi Nuh a.s. pernah tawaf di sekeliling Ka’bah (Thabari menurut kutipan Encyclopaedia of Islam“ Kata-kata ini.

Para ahli sejarah yang kenamaan dan yang keahliannya telah diakui, bahkan termasuk pula beberapa ahli kritik yang amat memusuhi Islam, telah mengakui bahwa Ka’bah telah dianggap suci semenjak masa kuno. Deodorus Siculus dalam menulis mengenai daerah yang kini dikenal sebagai Hejaz mengatakan: “Di negeri ini terdapat suatu rumah peribadatan yang dianggap suci oleh semua orang Arab, yang kaum-kaum bertetangga berkerumun ke tempat itu dari semua jurusan.”

Berkata Sir William Muir: “Kata-kata tersebut tentu menunjuk kepada Rumah Suci di Mekkah, sebab kita tidak mengetahui mengenai suatu Rumah lain yang pernah dimuliakan secara universal di Arabia ..........................

Riwayat melukiskan, Ka’bah sebagai tempat ziarah dari seluruh penjuru Arabia semenjak masa yang sangat tua .........................

Kehormatan yang begitu luas, tidak boleh tidak, harus ada permulaannya pada kurun zaman yang sangat jauh.” (William Muir, P.CIII).

Nampaknya Ka’bah mula pertama dibangun oleh Nabi Adam a.s. dan setelah dihancurkan oleh banjir besar di masa Nabi Nuh a.s. telah dipugar kembali di masa kemudian oleh Nabi Ibrahim a.s. dibantu oleh putra beliau, Nabi Isma’il a.s., dan doa Nabi Ibrahim a.s. tersebut mencapai puncak pengabulannya dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (Al-Quran - QS.5:4), yaitu Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۳۰﴾٪

Ya Tuhan kami, bangkitkanlah seorang rasul dari antara mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:129-10).


(Bersambung)

Rujukan:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid